Perkawinan di Bawah Umur Harus Dicegah

Ilustrasi

JAYAPURA, PAMALNEWS.com – Masyarakat diminta mencegah perkawinan anak usia dini, karena rawan akan KDRT dan Perceraian. Usia pernikahan ideal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

Demikian ditegaskan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si, di Jayapura, Senin (29/10).

“Perkawinan anak di bawah umur 18 tahun wajib dicegah karena rawan dan mampu menimbulkan dampak negatif terhadap sosial dan psikologis. Perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun berpotensi keguguran,” jelas Derek Wouw.

Kata dia, berdasarkan data kasus, di Kabupaten Jayapura ada sebanyak 324 perempuan yang telah melakukan perkawinan atau pernikahan di bawah umur antara usia 15 tahun hingga 19 tahun.

Ia mengingatkan dampak resiko perkawinan di bawah umur yang berujung perceraian, anak dan ibu rentan terhadap penyakit, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kesehatan reproduksi, beban ekonomi yang makin bertambah berat bahkan bisa bunuh diri.

Menurutnya, penyebab terjadinya perkawinan dini karena rendahnya tingkat pendidikan antar kedua pasangan, tuntutan ekonomi, sistem nilai budaya, perkawinan atau pernikahan yang sudah diatur dan seks bebas.

“Bahkan ada sebagian masyarakat masih ada yang menganggap kawin di bawah umur atau nikah dini sebagai faktor keturunan, padahal bukan atau hal itu salah,” ungkapnya.

Kata dia pula, perkawinan dikatakan rawan, karena mereka masih anak-anak, mental mereka dalam menjalankan kehidupan rumah tangga itu masih minim sekali. Sehingga hal itulah yang menyebabkan perkawinan di bawah umur itu rawan.

“Sebab itu, perkawinan di bawah umur atau pernikahan dini harus dicegah dengan meningkatkan kesadaran laki-laki dan perempuan sejak mereka masih usia remaja,” kata Derek.

Baca Juga:   Pemprov Serukan Generasi Muda Setop Konsumsi Miras

Ia menambahkan, pada usia remaja atau SMP maupun SMA, merupakan masa transisi di mana sang anak suka meniru dan suka mencoba pada hal-hal yang baru. Umumnya, anak remaja masih tergantung pada lingkungan sosialnya dan anak belum mampu mandiri tapi sudah ingin lepas oleh orang tuanya untuk belajar mandiri.

“Untuk mencegah terjadinya perkawinan di bawah umur, pihaknya terus melakukan pembinaan bagi anak remaja di tingkat SMA/SMK yang ada di beberapa sekolah di Kabupaten Jayapura,” ujarnya. (jwl)